Minggu, 23 Mei 2010

Ibu-Ibu PKK terbakar

Kapal Patroli TNI Angkatan Laut yang membawa rombongan ibu-ibu PKK Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau, terbakar di perairan Lingai, Kamis (20/5). Tiga penumpang dinyatakan hilang sedangkan belasan lainnya mengalami luka bakar di antaranya kritis.

Salah satu korban hilang adalah istri pelaksana tugas Bupati Anambas Yusrizal. Rombongan berangkat dari Tarempa menuju Kecamatan Jemaja. Menurut rencana ibu-ibu PKK akan memberikan bantuan.

Saat dalam perjalanan kapal motor tiba-tiba terbakar akibat mesin meledak. Api dengan cepat menyebar karena kapal terbuat dari fiber. Saat kejadian, kebanyakan para penumpang tidak memakai jaket penyelamat meski peralatan tersebut tersedia di kapal

Senin, 10 Mei 2010

Mapolres Kuansing Razia tambang emas ilegal pakai Helikopter

Mapolres Kuantan Singingi (Kuansing), Selasa (13/4)merazia penambangan emas ilegal di wilayah Kabupaten Kuansing, tepatnya di sekitar Kebun Lado Singingi Hilir.

Alhasil, Tujuh mesin dompeng, 15 rakit serta puluhan alat penyedot dan pemurnian bijih emas diamankan sebagai barang bukti aktivitas penambangan ilegal tersebut.

Sebagian barang bukti itu ada yang kemudian dimusnahkan, sedangkan sebagian lagi dibawa dengan menggunakan helikopter yang disiapkan dalam operasi yang langsung dipimpin oleh Kapolres Kuansing, AKBP Rudi Abdi Kasenda serta Wakapolres, Kompol Muji Supriyanto SIK.

Awalnya aksi besar-besaran yang dilaksanakan ini diperkirakan akan kembali mendapat perlawanan dari masyarakat setempat seperti yang terjadi beberapa pekan lalu. Dari pantauan, ternyata, proses pengamanan lokasi berlangsung lancar. Hanya saja, dari kejauhan banyak masyarakat yang memantau kegiatan penertiban yang juga membersihkan seluruh aktivitas penambangan yang menghabiskan tak kurang dari 2,5 kilogram emas setiap harinya itu.

Dalam operasi kali ini, aparat kepolisian langsung mengerahkan satu unit helikopter yang diperbantukan dari Mapolda Riau. Helikopter itu dikerahkan untuk mengangkut mesin-mesin dompeng yang ada di atas rakit. Di sekitar Sungai Singingi Desa Kebun Lado yang menjadi sasaran operasi, tidak ditemukan adanya para pekerja dan penambang. Hanya ada sekitar 15 unit rakit yang telah ditinggalkan para penambang dan pemilik tambang.

Tak ayal lagi mesin-mesin dompeng yang ada di atas rakit serta peralatan penambangan yang digunakan untuk kegiatan penambangan emas ilegal tersebut jadi sasaran penertiban. Sebanyak tujuh unit mesin dompeng dari 15 unit rakit yang ada di lokasi, dipreteli dan diangkat.

Jarak yang dipisahkan dengan anak sungai, membuat helikopter dari Polda terpaksa dikerahkan mengangkat mesin-mesin dompeng yang cukup berat tersebut khususnya untuk membantu percepatan pengamanan peralatan yang selama ini digunakan untuk penambangan emas di kawasan tersebut.

Selain itu, sekitar 15 pipa dan selang yang digunakan untuk aktivitas penambangan, 50 karpet penyaring, 10 dulang, 10 buah drum, tikar dan peralatan lainnya juga dibawa sebagai barang bukti operasi, yang selanjutnya dibawa ke Mapolres Kuansing.

Kapolres Kuansing AKBP Rudi Abdi Kasenda di sela-sela pelaksanaan operasi menyebutkan, kalau kegiatan ilegal ini adalah kasus tindak pidana yang sangat menjadi prioritas jajaran Polda Riau khususnya Polres Kuansing.

“Kegiatan akan kita tindaklanjuti hingga tuntas,” ujarnya.

Meski para pelaku penambangan emas ilegal dan pemiliknya diancam dengan hukuman yang berat, yakni UU Lingkungan No 23 tahun 1997 dan terancam hukuman pidana, para pelaku, menurut Rudi, masih saja tetap membandel. ‘’Karena itulah kami kembali menyisir kawasan ini,’’ sebut dia.

Soal dampak kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas penambangan, Rudi tidak berani berkomentar terlalu jauh. ‘’Untuk membuktikan kalau kawasan sekitar areal pertambangan sudah tercemar, perlu dilakukan penelitian dari ahli lingkungan hidup dan uji laboratorium,’’ sebut dia.

Tindakan yang dilaksanakan kepolisian kali ini, disebutkan dia adalah kebijakan dari Polri. Jumlah personel yang diturunkan sebanyak 150 orang personil. Dan ini masih sepertiga kekuatan dari yang dipersiapkan yang kurang lebih 400 orang personil. Pasukan Polres Kuansing dan Brimob tetap meningkatkan kewaspadaan. Mereka dilengkapai dengan persenjataan lengkap, termasuk tameng dan gas air mata.


Belum Ada yang Akui Pemilik

Sementara, operasi sebelumnya yang dilakukan Polres Kuansing dan Polda Riau, di Desa Petapahan Kecamatan Gunung Toar yang berhasil membekuk lima orang operator dan 11 orang pekerja tambang serta tujuh unit alat berat merek Kobelko. Menurut Kapolres Kuansing AKBP Rudi Abdi Kasenda, mereka masih dalam proses penyidikan.

Perwira melati dua di pundak ini menegaskan, akan terus memprosesnya hingga pada proses pengadilan untuk mendapatkan hukuman yang setimpal. Sementara siapa pemilik ketujuh unit alat berat tersebut, Kapolres menyebutkan belum ada yang mengaku. Meski demikian, ketujuh unit alat berat tersebut tetap diamankan Polres Kuansing. Di tengah operasi juga terlihat Kabag Ops AKP Rudi Samosir, Kasat Reskrim AKP Firman VW Sianipar SH, Kasat Samapta AKP Caniago, Kapolsek Singingi AKP Mahmudin, Kapolsek Singingi Hilir AKP Dodi Hasibuan, serta AKP Firdaus Komandan Pleton Pasukan Brimob Polda Riau yang turun memback-up.

Pasukan Polres Kuansing yang di-backup dua pleton Brimob Polda Riau, bergerak pukul 10.10 WIB dari Mapolres Kuansing. Seluruh pasukan langsung meluncur dan berkumpul di Mapolsek Singingi Hilir mengatur strategis penindakan lapangan termasuk bila ada perlawanan massa dari masyarakat setempat atau para pekerja dan pemilik dompeng.


Hilang 2,5 kilogram

Diperkirakan setiap hari sekitar 2,5 kilogram biji emas di wilayah Kuansing ditilap para penambang liar tersebut. Karena itu Lembaga Peduli Pembangunan Kuansing meminta Pemkab Kuansing dan aparat penegak hukum untuk tidak berhenti melakukan pemberantasan PETI. Ketua Lembaga Peduli Pembangunan Kuansing M Ilyas mengungkapkan, ratusan unit alat mesin tambang beroperasi di Kuansing setiap hari.

Belum lagi alat tambang yang menggunakan peralatan alat berat. Sehingga diperkirakan sekitar 2,5 kilogram biji emas terbongkar dari bumi Kuansing setiap hari. M Ilyas mengatakan ada cukong tambang liar atau PETI di Kuansing yang berhasil mendulang emas sekitar 1 kilogram sehari.

Namun dirinya enggan menyebutkan identitas cukong tersebut. Herannya kata Ilyas, cukong tambang berinisial PC itu sampai kini tidak pernah tersentuh hukum. Padahal cukong asal Desa Logas, Kecamatan Singingi setiap hari berkeliaran di wilayah Kuansing itu. Karena itu, M Ilyas meminta aparat penegak hukum untuk serius memberantas masalah PETI.

Menurut Ilyas, PETI tidak saja merusak lingkungan. Misalnya membuat air sungai menjadi keruh atau membuat lubang galian yang dalam di permukaan bumi. Tapi PETI juga sudah merugikan negara khususnya Pemkab Kuansing hingga triliun rupiah.

‘’Hitung saja sudah berapa lama PETI bebas beroperasi. Setiap hari 2,5 kilogram emas ditilap. Berapa nilai kerugian negara,’’ kata Ilyas.(berbagai sumber))

Sabtu, 08 Mei 2010

Pengukuhan pengurus Iwakusi di iringi calempong onam

Kesenian tradisional randai dan calempong onam memeriahkan pengukuhan dan pelantikan pengurus Ikatan Warga Kuantan Singingi (IWAKUSI) Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan periode 2010-2015.Pengukuhan tersebut dilakukan oleh Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis, melalui asisten perekonomian dan pembangunan kabupaten Kuansing Kamis (6/5) pukul 19.30 WIB di Hotel Comfort Tanjungpinang.

Ketua Umum IWAKUSI Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan yang baru, Amrialis mengatakan kesenian tradisional asal Kuantan Singingi itu sengaja ditampilkan untuk memberikan nuansa lain saat pengukuhan. Selain itu juga bertujuan untuk memperkenalkan kesenian tradisional Kuantan Singingi kepada masyarakat Tanjungpinang dan Bintan.

Amrialis mengaku, kesenian tradisional celempong onam dan randai keberadaannya hingga kini masih eksis di tengah masyarakat asal Kuantan Singingi di Tanjungpinang dan Bintan. Dan, tim kesenian ini sering pula mendapat undangan untuk memeriahkan acara kesenian dan kebudayaan yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Kepri, Kota Tanjungpinang dan Bintan.


Sekedar di ketahui, warga asal Kuantan Singingi di Kota Tanjungpinang yang sudah terdata berjumlah 5000 kepala keluarga atau 25 ribu jiwa. Sedangkan di Kabupaten Bintan sekitar 500 kepala keluarga atau 5000 jiwa.